banten

Pabrik yang Produksi Jamu Palsu Senilai Rp 11,5 M Digerebek Polda Banten

Berita Utama/Featured News/Hukrim

banten2

Kepala Kepolisian Daerah Banten, Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri M.Si memantau langsung lokasi sebuah pabrik dan gudang penyimpanan jamu palsu di Kampung Cilongok, RT 05 RW 16, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Lokasi ini, baru saja digerebek oleh petugas gabungan Polda Banten dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang dipimpin oleh Kasubdit III Narkoba Polda Banten, AKBP Anhar, hari Rabu (09/08/2016).

Kapolda datang bersama dengan Dirkrimsus, Dirnarkoba, Kabidhumas Polda Banten dan Badan POM Prov. Banten. Peninjauan dilakukan setelah Kapolda menjadi Inspektur Upacara pada Pembukaan dan Pembentukan Bintara Polri T.A. 2016 di SPN Mandalawangi.

Pabrik yang digerebek ini, adalah PT Bika Martin Jaya. Dari luar, seolah-olah pabrik ini memproduksi kertas/karton. Tetapi di dalamnya, pabrik ini ternyata juga memproduksi jamu ilegal. Tercantum dalam surat ijin perusahaan tersebut dengan nama produsen Herbalindo SM, yang sebelumnya pernah dipidana pada tahun 2008 dalam kasus yang sama dengan lokasi di Balaraja.

Nilai barang yang ada di gudang tersebut sekitar Rp 11,5 Miliar. Tersangka dijerat UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 106 Jo 196, Jo 197 dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda 1,5 Miliar. Kemudian PP No. 72 Tahun 1998, Permenkes No. 007 tahun 2012 Pasal 7 dan Peraturan BPOM RI.

Penggerebekan ini berawal dari informasi masyarakat, bahwa pada salah satu gudang/pabrik perusahaan tersebut ada kegiatan peracikan atau pembuatan jamu palsu tradisional. Setelah dilakukan penyelidikan dan mendatangi TKP, ternyata benar adanya bahwa di salah satu gudang perusahaan tersebut didapati peralatan dan bahan baku kimia, obat serta bahan lainnya yang diduga untuk memproduksi jamu palsu yang tidak terdaftar dibalai BPOM.

Jamu atau obat tradisional tersebut diduga mengandung parasetamol, sildenafil sitrat, fenilbutazon, turunan sildenafil dan deksametason.

[pid polda banten]

Komentar