Surat Kabar Digital Berita Indonesia

depok-e1473902943290

Polisi Geledah Rumah dan Periksa Pembuat Mie Bikini yang Ternyata Seorang Mahasiswi

Berita Utama/Headline/Hukrim

Sebuah rumah berlantai tiga, yang dijadikan sebagai pabrik pembuat makanan ringan Bihun Kekinian (Bikini) di Sawangan, Depok, digerebek Kepolisian Resor Metro Depok, Jawa Barat, bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung, Sabtu (06-08-2016) dini hari.

Dalam penggeledahan itu Polres Metro Depok dan BBPOM menyita ribuan bungkus makanan ringan yang saat ini menjadi kontroversi itu. Kepala Reserse Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Depok Ajun Komisaris Polisi Elly Padiansari mengatakan, seorang mahasiswi berinisial TW (19), yang menjadi pembuat bihun tersebut, kini menjalani pemeriksaan.

Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok, Komisaris Polisi Teguh Nugroho mengatakan, dari hasil pemeriksaan, Tw memang sengaja membuat produk itu untuk memenuhi tugas kuliah.

“Jadi hasil interogasi motifnya bermula dari tugas kampus dia, di mana disuruh membuat produk dan menjual ternyata dapat respons yang lumayan dalam penjualannya, pengakuannya dia hanya menjualnya secara online. Itu juga sudah kami telusuri ke sejumlah toko dan warung dan hasilnya memang tidak kami temukan produk yang diduga mengandung unsur pornografi tersebut, ujar Teguh, Minggu (07-08-2016).

Sementara TW tak mengira jika produk yang dihasilkannya akan menimbulkan kontroversi. Kepada media, melalui tulisannya, Tw menceritakan awal produksi makanan ringan itu.

Kejadian bermula ketika Tw mendapatkan tugas dari sekolah bisnis di kampusnya di kawasan Bandung, Jawa Barat. Dengan nama project home business, dia diharuskan membuat produk sendiri dari belanja barang, mengolahnya, hingga kemasannya.

“Kami dibuat per kelompok, saya berlima dengan teman-teman saya. Pada saat itu semua memberikan ide-ide produk masing-masing. Saya memberikan ide membuat bihun goreng ini,” ujar Tw.

Tw menambahkan, Ide bihun goreng ini juga tidak murni dari dirinya, tapi melihat di dekat rumah saya ada yang menjual seperti itu .

“Banyak yang suka jadi saya berpikir kalau produk ini bisa diterima masyaraka,” ujar Tw.

Untuk nama Bikini, menurut Tw, hal itu spontan karena memang singkatan dari Bihun Kekinian.

“Desain tidak ada sedikitpun terpikir kalau itu termasuk pornografi karena saya dan teman-teman berpikir bikini itu nama baju renang. Jadi tidak menyangka kalau namanya dipikir tidak senonoh,” ujarnya.

Lanjut Tw, adapun untuk gambar, karena namanya bikini terpikir gambar dan desain yang pas sesuai dengan namanya. Dalam gambar kemasan produknya itu, Tw dan sejumlah rekannya tetap memasukan gambar mi yang sedang dipegang oleh sosok wanita dengan tambahan slogan “remas aku”.

“Slogan diberikan oleh dosen saya yang juga mengajarkan materi untuk marketing dan idenya. Kata remas aku juga bukan dimaksudkan untuk meremas dada yang ada di gambar tersebut yang orang-orang mengartikan seperti itu. Kata remas aku pun dimaksudkan meremas isi kemasan tersebut sebelum dimakan. Kata remas aku itu digambarkan ke arah snack yang dipegang oleh gambar di kemasan,” ujar Tw.

Tw mengatakan awal produksinya, saat masih menjalankan project berlokasi di salah satu indekos kelompoknya, di daerah Geger Kalong, Bandung, Jawa Barat.

Saat project berlangsung pun bikini hanya keluar sekitar 2.100 buah. Rata-rata orang yang membelinya karena penasaran dengan bihun goreng.

“Mereka pun banyak yang melakukan repeat order atau memesan kembali karena rasanya yang enak. Setelah project selesai ternyata masih banyak yang ingin membeli produk kami, akhirnya kami putuskan untuk menjual brand tersebut ke kakak salah satu tim kami,” ujarnya.

Setelah itu, tidak ada produksi lagi karena belum ada yang mengerjakannya. Usai Tw selesai dari sekolah itu, dia membeli lagi brand tersebut.

“Karena kakak saya yang membelinya pada waktu itu. Kakak saya pun setuju untuk menjualnya kembali,” ujar Tw.

Beberapa bulan kemudian, produk itu masih belum produksi. Akhirnya produksi dimulai lagi pada April tetapi hanya 1.000 buah.

Setelah itu, pada Juni dimulai produksi sekitar 10.000 buah tetapi diproduksi tidak sekaligus, melainkan hanya keluar 2.000 bungkus per bulan. Sampai Agustus ini, produk itu habis terjual hanya 6.000 bungkus.

[Humas Polres Metro Depok]

Komentar

Kembali ke Atas