gorontalo

Rusuh Lapas Gorontalo

Featured News/Peristiwa

Kerusuhan kembali terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gorontalo. Kerusuhan terjadi disebabkan penganiayaan yang dilakukan oleh napi kepada anggota Polri.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar Polisi S Bagus Santoso SIK, MH, saat dikonfirmasi mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa (31-05-2016). Seorang napi bernama Edi Nurkamiden melakukan penganiayaan menggunakan senjata tajam (pisau) terhadap Brigadir Polisi Dua Moh Kurniawan Noho.

Adapun kronologis kejadian berawal saat korban bertugas mengawal para tahanan untuk mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Gorontalo. Setelah selesai sidang, para tahanan tersebut diantar kembali ke Lapas Gorontalo yang kawal oleh korban dan salah satu pegawai kejaksaan. Namun, sesampainya di Lapas Gorontalo, dari pihak pegawai kejaksaan masih mengantar salah satu tahanan ke rumah sakit untuk berobat, sedangkan korban mengantar tahanan lainnya untuk masuk ke dalam Lapas Gorontalo.

Setelah sampai ke dalam lapas, korban meminta untuk masuk sampai ke Pos 2 guna menandatangani berita acara penyerahan para tahanan. Akan tetapi dalam perjalanan ke Pos 2 korban diteriaki oleh para tahanan lainya dengan teriakan “kalau masuk ke dalam sini harus bertanya”.

Sontak korban menanyakan pernyataan para napi. Akan tetapi, tiba-tiba korban dipukul oleh salah satu tahanan yang mengenai pada bagian pipi sebelah kanan dan saat itu juga korban mendengar ada teriakan “Mau suruh potong kau”.

Kemudian korban langsung dikeroyok oleh para tahanan yang jumlahnya sekitar 10 orang. Setelah itu korban berusaha kabur menuju Pos 1 dan meminta Sipir Lapas agara membuka pintu setelah itu korban menuju mobil dan meminta kepada Yani (sopir kejakasaan) untuk mengantar korban ke Rumah Sakit Bunda. Namun pihak rumah sakit Bunda merujuk ke RS Aloe Saboe.

“Atas kejadian tersebut korban mengalami luka robek di bagian kaki kanan dan kiri dengan ukuran luka tusuk sebelah kanan 25x1x8 cm, luka robek sebelah kiri dengan ukuran 4×0, 5×1 cm dan luka robek sebelah kiri bagian bawah dengan ukuran 0,5×1,5 cm,” kata Kabid.

Kemudian pada pukul 20.00 wita, Polres Gorontalo berkoordinasi dengan Polres Gorontalo Kota serta Polda Gorontalo untuk melakukan penjemputan terhadap pelaku Edi Nurkamiden di Lapas Gorontalo. Namun setelah sampai di Lapas Gorontalo, pihak kepolisian mendapat perlawanan dari para penghuni lapas sehingga terjadi pelemparan dengan menggunakan batu dan bom molotov kepada pihak kepolisian dan dibalas dengan tembakan gas air mata ke dalam Lapas Gorontalo.

Situasi saat itu hingga pukul 02.00 wita dinihari masih dalam keadaan kondusif walaupun beberapa kali terjadi aksi pelemparan oleh para tahanan dan penembakan gas air mata oleh pihak kepolisian.

Pada hari Rabu (01-06-2016) sekitar pukul 02.30 wita, Kapolres Gorontalo dan Danyon A Brimob Polda Gorontalo AKBP Dwi mencoba bernegosiasi dengan pihak Kakanwil Hukum dan HAM, Agus Bandrio dan Ka Lapas, Anis Widodo dengan maksud agar Edi Nurkamiden menyerahkan diri guna diperiksa terkait penganiayaan tersebut, sehingga Kakanwil memerintahkan anggotanya untuk masuk ke dalam Lapas Gorontalo guna bernegosiasi dengan para tahanan yang berada di dalam Lapas Gorontalo.

Pada pukul 05.30 wita, negosiator keluar dari ruangan Lapas Gorontalo menemui Kapolres Gorontalo, Kakanwil Gorontalo dan Kabinda Gorontalo untuk menyampaikan beberapa tuntutan dari para tahanan.

Adapun tuntutan tersebut di antaranya meminta kepada pihak Kepolisian agar Edi Nurkamiden tidak dibawa ke Polres Gorontalo Kota untuk diperiksa, namun diperiksa di dalam Lapas Gorontalo dan meminta kepada pihak Kakanwil agar Faisal (terkait kasus penyerangan dengan menggunakan panah wayer terhadap tahanan lainnya) yang semula telah dipindahkan ke Lapas Boalemo agar dikembalikan ke Lapas Gorontalo. Selain itu, tunutan lainnya adalah meminta kepada Kapolres Gorontalo Kota agar menarik mundur semua pasukannya keluar dari Lapas Gorontalo.

[Humas Polda Gorontalo]

Komentar